Senin, 18 Juni 2012

Gara-gara Semangka


Gara-Gara Semangka


Gara-Gara Semangka
Kejadian pada Hari Selasa siang itu tak akan terlupakan di benakku. Jadi, pada hari itu aku dan teman-teman sekelasku sedang ada Ujian Praktek T.I.K tempatnya di laboratorium. Ujian praktek itu dilakukan secara berkelompok. Jika sudah selesai mengerjakan tugas prakteknya maka kelompok yang sudah selesai tersebut diperbolehkan untuk kembali ke ruang kelas yang berada di lantai atas.
Setelah beberapa menit….
Akhirnya kelompok pertama telah selesai mengerjakan ujian prakteknya dan mereka langsung menuju ke ruang kelas, kini saatnya aku dan kelompokku untuk masuk ke dalam ruang praktek di laboratorium. Beberapa menit kami berada di ruang ujian praktek dan akhirnya kami dapat menyelesaikannya dengan baik dan keluar dari ruang ujian tersebut lalu menuju ke ruang kelas kami.
Setelah keluar dari ruangan tersebut aku mendapat kabar dari temanku kalau di kelas ada semangka pecah gara-gara di main-mainin sama anak cowok yang ada di kelas. Oh iya sebelumnya pasti kalian heran kenapa di dalam kelas ada Buah Semangka kan? Jadi itu Semangka sebenarnya untuk bahan tugas praktek PKK dan semangka itu dibelikan oleh mamanya teman kelas kami yang bernama Frank. Kabar itu membuat Aku, Delisa, Mona tersentak kaget ketika mendengarnya. Lalu, kami bertiga-pun langsung bergegas menuju ruang kelas untuk melihat keadaan kelas. Setelah melihat kejadian itu, Mona pun agak sedikit kesal dan marah terhadap anak-anak cowok yang sudah berlaku tidak baik itu, Mona bertanya kepada mereka “Siapa yang udah mainin ini semangka sampai pecah begini?” dengan nada kesal dan marah. Mereka semua terdiam, tidak ada yang berani untuk menjawab pertanyaan itu. Mereka semua hanya mengelak dan cuman bisa menjawab “Bukan saya kok” atau “bukan aku kok”
Karena nggak ada yang mau ngaku, akhirnya Aku, Delisa dan Mona menjadi sangat kesal. Kami bertiga marah kepada anak-anak cowok itu karena nggak ada satupun yang mau bertanggung jawab. Hal-hal yang membuat kami kesal saat itu adalah karena ada satu orang di antara anak cowok-cowok itu ada yang berkata “yaelah cuman Semangka doang aja ribet banget, emang berapa sih harganya?” itu kata-katanya ‘jleb’ banget. Lalu akupun berkata “Hah? Apa? Kalian bilang Semangka itu cuman? Kalian itu terlalu meremehkan, aku tau mungkin kalian semua itu orang kaya yang menganggap sebuah Semangka itu bagaikan tak ada artinya tapi bagi orang lain sebuah semangka itu bisa berarti. Seharusnya kalian bersyukur karena sudah hidup berkecukupan. Seharusnya kalian berterima kasih bukan malah meremehkan. Seharusnya kalian tuh berfikir, gimana kalau hidup kalian seperti orang yang tidak mampu?” lalu Delisa pun melanjutkan kata-kataku, ia berkata “Kalian memang sudah remaja, umur kalian juga memang sudah belasan tahun tapi sifat kalian itu membuat kalian seperti anak TK yang baru masuk sekolah. Berfikir konyol dan tidak berfikir panjang” lalu Mona pun berkata “Jangan kalian nganggep kita bertiga ini marah sama kalian, kita disini tuh cuman berniat buat ngasih tau kalian supaya kalian nggak terus-terusan bersifat kekanak-kanakan dan bertingkah seperti anak kecil” Setelah kami memberikan penjelasan panjang lebar kepada mereka-mereka sampai lelah, tetapi tetap saja mereka justru malah makin berlaku menyebalkan, tidak ada satupun yang merespon kami. Kami justru diledek oleh mereka. Dan pada saat itu ada cowok yang merasa sangat di marahi oleh Aku, Delisa dan Mona. Cowok itu bernama Steve. Padahal niat kami disitu bukan buat marahin dia tapi justru kami bertiga berniat untuk menasehati dia. Akhirnya disini Aku, Delisa dan Mona sudah mulai menyerah, kami merasa sangat tidak dihargai. Saat kami menasehati Steve, Steve malah tidak mau mendengar nasihat kami dia malah berkata “diam kalian, berisik tau nggak. Jangan merasa paling benar dong”. Kata-kata Steve itu membuat Aku, Delisa dan Mona menjadi merasa sakit hati karena, niat baik kami ternyata justru malah tidak bisa diterima dengan baik oleh Steve, dia malah merasa termarahi oleh kami bertiga. Oh ya, Steve itu di kelas punya seorang pacar namanya Aurora, Aurora ini sebenernya merupakan sahabat dari Aku, Delisa dan Mona. Tetapi, sepertinya Aurora tampak terlihat kesal ketika melihat Aku, Delisa dan Mona ketika menasehati si Steve. Jadi, pada kejadian ini Aurora lebih membela Steve ketimbang Aku, Delisa dan Mona.
Karena kejadiaan ini Aku, Delisa dan Mona jadi tak kuat untuk menahan air mata. Akhirnya, secara perlahan air mata kami keluar dan kami pergi untuk meninggalkan ruangan kelas. Kami bertiga pun menangis terisak-isak. Di sela-sela tangisku aku merasa kesal sekali karena Aurora yang telah aku anggap sahabat sejak lama tetapi dalam kejadian seperti ini dia lebih mendukung pacarnya yang bersalah. Disaat itu entah mengapa aku sangat menyesal pernah kenal dengan Aurora, aku pikir dia sahabat yang selalu ada dalam suka-duka tapi ternyata dugaanku salah. Mona dan Delisa-pun juga merasakan hal yang sama sepertiku, mereka seperti merasa terkhianati oleh Aurora. Padahal waktu sebelum Aurora dan Steve pacaran, yang membantu mereka untuk jadian itu Aku, Delisa dan Mona. Disitu kami bertiga seperti merasa menyesal karena sudah membantu mereka berdua. Padahal, kami kira kalau Steve jadian sm Aurora, Steve bakal bisa mengubah sikap Aurora secara perlahan.
Kami bertiga terus menangis di luar kelas sampai-sampai banyak teman-teman yang mengelilingi kami untuk menenangkan kami dari tangisan ini. Tapi dari sekeliling banyak orang ini, tak ada Aurora. Aurora hanya terdiam di kelas, dia lebih memilih di kelas bareng pacarnya, Steve. Disini Aku, Delisa dan Mona semakin nyesek karena mungkin kita di anggap Aurora hanyalah sebagai ‘Angin Yang Berlalu’. Apakah mungkin hanya karena seorang pacar dia rela kehilangan sahabatnya? Mungkin saja. Akhirnya karena keaadaan yang seperti ini Aku, Delisa dan Mona jadi bertengkar dengan Aurora. Aku, Delisa dan Mona jujur kepada Aurora kalau sebenarnya kami bertiga tidak suka sama sifat dia yang lebih membela seorang pacarnya yang bersalah ketimbang membela sahabatnya sendiri. Apakah seorang pacar yang kurang perhatian lebih berarti buat dia ketimbang sahabat-sahabatnya yang selalu care sm dia? Entahlah.
Setelah beberapa lama akhirnya kami semua mencoba untuk berhenti menangis dan mencoba untuk menyesaikan masalah dengan kepala dingin. Akhirnya Mona bertanya kepada Aurora “Auror, kenapa kamu lebih membela pacar kamu yang bersalah ketimbang membela sahabat-sahabatmu sendiri? Apakah kehadiran kita disini nggak ada artinya buat kamu? Apakah kamu sudah menganggap kita-kita ini bukan sahabatmu lagi?” lalu setelah Mona bertanya seperti itu aku langsung mencetus berkata “aku nggak menyangka, kamu itu munafik ya. Apakah kamu lupa sama semua kebaikan kita? Kamu inget nggak siapa yang bantuin kamu sama steve jadian? Siapa orang-orang yang biasa buat jadi tempat curhat kamu?”. Saat ditanya-tanya seperti itu Aurora hanya terdiam tak bisa menjawab sambil terus mengangis.
Dilain sisi teman-teman kami juga jadi ikutan menangis tapi juga masih ada yang bisa tertawa-tawa. Teman kami yang bernama Rosa akhirnya menyuruh kami untuk berdamai kembali, dia tak ingin ada pertengkaran di antara kami semua. Jadi, akhirnya Aku, Delisa dan Mona mencoba untuk mendengar penjelasan dari Aurora mengapa dia lebih membela pacarnya daripada sahabatnya. Akhirnya Aurora pun menjelaskan alasannya dengan panjang lebar dan akhirnya dia pun meminta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Setelah mendengar penjelasan dari Aurora, Aku, Delisa dan Mona akhirnya sadar bahwa kejadian ini bukan sepenuhnya salah Aurora. Akhirnya pun kami saling bermaaf-maafan dan berpelukan satu sama lainnya. Teman kami pun juga rupanya menjadi sangat senang kembali karena melihat Aku, Mona, Delisa dan Aurora sudah berdamai kembali. Disaat itu juga Aurora berjanji “Aku janji, aku nggak akan pernah lagi meninggalkan sahabatku demi pacarku, aku rela kehilangan satu pacarku daripada aku harus kehilangan banyak sahabatku yang sangat sayang dan peduli terhadap aku, aku sayang sama kalian semua dan aku nggak mau kehilangan kalian”. Oh ya kami juga tak lupa meminta maaf kepada Steve, karena tadi Steve jadi salah sangka terhadap kejadian ini. Lega akhirnya ketika Steve juga mau untuk memaafkan kami semua. Dan pada akhirnya kami pun berbaikan lagi, berdamai dan bermain bersama-sama lagi, mencoba melupakan masalah dan kejadian tadi. Membuka lembaran baru dan mencoba untuk selalu berdamai, damai itu ternyata indah kawan dan percayalah setiap masalah yang kalian hadapi pasti selalu ada jalan keluarnya, dan sebenarnya dari masalah kecil ini aku bisa mengambil hikmahnya, disini aku jadi bisa tau bagaimana watak asli dari teman-temanku.

Bekasi, 14 June 2012

Written
Arvineke Pramaresi

DIAMBIL DARI KISAH NYATA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar